~ J a k o b u s ~

15 Juli 2009

Suatu Hasrat


Jika seseorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudarasaudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. —Lukas 14:26

Bacaan Untuk Setahun: Mazmur 13–15, Kisah Para Rasul 19:21-41

Nechayev, murid Karl Marx di abad 19 yang berperan dalam pembunuhan Tsar Alexander II, menulis: "Seorang pria revolusioner . . . tidak memiliki keinginan pribadi, tidak punya relasi bisnis, tidak punya emosi, tidak memiliki ikatan-ikatan, tidak memiliki harta, dan tidak memiliki nama. Segala sesuatu yang ada padanya terserap seluruhnya pada satu pemikiran tunggal dan satu hasrat demi revolusi." Meskipun motivasi dan tujuannya keliru, pernyataan Nechayev menunjukkan kesatuan pemikiran dari suatu komitmen.

Yesus menginginkan komitmen yang sejati dari para murid-Nya. Di Lukas 14, kita membaca tentang kerumunan orang yang mengikuti Yesus ketika Dia melakukan perjalanan ke Yerusalem (ay.25). Barangkali para pengikut yang biasa ini menganggap diri mereka sebagai murid Yesus yang sejati. Namun, Yesus mengajarkan bahwa menjadi pengikut-Nya lebih dari sekadar mengetahui fakta tentang Dia. Yesus menjelaskan tentang apa arti menjadi murid-Nya, ketika Dia menyatakan tentang harga yang harus dibayar sebagai murid: Tidak mengasihi bapa atau ibu atau bahkan dirinya sendiri selain, kasih kepada Kristus yang lebih utama (ay.26-33). Para murid-Nya (kini dan selamanya) harus mengakui bahwa jika Allah menjadi hal yang utama di dalam hidup mereka, harta milik dan bahkan relasi sosial harus menjadi yang hal kedua.

Tuhan Yesus memanggil para pengikut-Nya agar hanya memiliki satu hasrat dan pikiran yang tunggal dan ekslusif, yaitu tentang diri-Nya. —MLW

Kobarkan hati kami, ya Tuhan, ajar kami ‘tuk berdoa!
Saat dunia binasa, kami menuruti jalan kami sendiri
Tak bertujuan, tak berhasrat, hari lepas hari;
Kobarkan hati kami, ya Tuhan, ajar kami ‘tuk berdoa! —Cushman

Kasih kita kepada Tuhan Yesus adalah kunci untuk memiliki hasrat rohani.

---------
@Rbc

26 Juni 2009

Nyanyian Orang Kudus

Baca: Wahyu 15

Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu? Sebab Engkau saja yang kudus; . . . sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu. —Wahyu 15:4

Bacaan Untuk Setahun: Ayub 5–7, Kisah Para Rasul 8:1-25

Kita pernah mendengar ungkapan, "Aku tidak gila; aku hanya ingin balas dendam." Ketika membaca tentang penghakiman yang digambarkan di kitab Wahyu, orang mungkin menganggap bahwa Allah akan "membalas dendam" terhadap orang berdosa karena pelanggaran-pelanggaran besar mereka di sepanjang sejarah umat manusia.

Yang benar adalah bahwa penghakiman terakhir Allah merupakan suatu ungkapan yang patut dari keadilan-Nya yang kudus. Dia tidak dapat menutup mata terhadap dosa. Bahkan, jika Allah ternyata tidak menerapkan keadilan seperti yang digambarkan dalam Wahyu, itu berarti Dia mengingkari sifat kekudusan-Nya. Itulah sebabnya di tengah penghakiman-Nya, orang-orang kudus menyanyikan: "Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu? Sebab Engkau saja yang kudus; . . . sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu" (15:4). Orang-orang yang sungguh mengenal Allah tidak akan salah menilai Allah karena penghakiman-Nya; sebaliknya, mereka menyembah dan mengakui bahwa segala tindakan-Nya benar.

Yang seharusnya mengejutkan kita bukanlah betapa dahsyatnya penghakiman Allah, tetapi bahwa Dia telah menahannya begitu lama! Rindu agar tidak ada yang binasa dan semua orang bertobat (2 Ptr. 3:9), kini Allah dengan penuh kasih sedang menunda penghakiman-Nya dan memberi ruang bagi manusia untuk menerima belas kasihan dan anugerah-Nya yang ajaib. Sekarang adalah saatnya bertobat dan memanfaatkan sebaik-baiknya kasih-Nya yang panjang sabar itu. Jika kita melakukannya, kelak kita akan bersama-sama segala orang kudus memuji Dia selama-lamanya! —JMS

Oh, kasih Allah agunglah!
Tiada bandingnya!
Kekal teguh dan mulia!
Dijunjung umat-Nya! —Lehman

Saat keadilan Allah pada akhirnya dinyatakan dengan sepenuhnya, puji-pujian bagi-Nya akan berkumandang!

--------
@Rbc


25 Juni 2009

Taman Eden Simpanse


Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita. —Bilangan 14:8

Bacaan Untuk Setahun: Ayub 3–4, Kisah Para Rasul 7:44-60

Eugene Cussons bekerja menyelamatkan simpanse-simpanse yang induknya dibunuh oleh para pemburu. Kebanyakan simpanse yang dibawa keluar dari rimba saat masih bayi ini seumur hidupnya terkurung di suatu tempat yang ukurannya lebih kecil dari sel penjara. Ketika Cussons datang membawa mereka ke taman margasatwa yang disebutnya sebagai "Taman Eden Simpanse", ia sering melihat bagaimana simpanse-simpanse itu bersikap tidak ramah dan tidak memercayainya.

"Para simpanse ini tidak menyadari kalau saya adalah salah satu dari orang yang bersikap baik kepada mereka," kata Cussons. Mereka bersikap melawan saat ia berusaha memasukkan mereka ke kandang yang lebih kecil untuk menempuh perjalanan ke rumah baru mereka. "Mereka tidak tahu bahwa saya membawa mereka ke Taman Eden Simpanse dan memberi mereka suatu kehidupan yang jauh lebih baik."

Dalam skala yang lebih besar, tawaran Allah untuk membebaskan kita dari perbudakan dosa sering kita tanggapi dengan perlawanan. Ketika menyelamatkan bangsa Israel dari Mesir, Allah membawa mereka melalui tempat-tempat sulit yang membuat mereka meragukan maksud baik-Nya. "Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?" teriak mereka (Bil. 14:3).

Dalam perjalanan iman kita, ada kalanya ketika "keterikatan" pada dosa yang telah kita tinggalkan ternyata lebih menarik daripada aturan-aturan iman yang terpampang di depan kita. Kita harus memercayai batasan-batasan perlindungan yang kita temukan di dalam firman Allah sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai kemerdekaan sejati. —JAL

Pikatan dosa tampak seperti kemerdekaan
Tetapi cengkeramannya mengikat kita;
Hanya ketika kita terikat pada Yesus
Kemerdekaan sejati akan kita temukan. —D. De Haan

Ketaatan pada Allah adalah kunci kemerdekaan.

----------
@Rbc

20 Juni 2009

Pertemuan Kembali


Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. —Wahyu 21:3

Bacaan Untuk Setahun: Ester 1–2, Kisah Para Rasul 5:1-21

Pada tahun 2002, Elizabet Smart diculik dari rumahnya di Utah. Ia hidup sebagai gelandangan dengan diawasi oleh pasangan yang dituduh telah menculiknya. Namun, 9 bulan setelah diculik, ia pun ditemukan dan dikembalikan ke rumahnya. Tentunya pertemuan kembali itu merupakan reuni indah yang telah dinanti-nantikan oleh keluarganya.

Di dalam kitab Wahyu, Yohanes menggambarkan suatu penglihatan akan langit yang baru dan bumi yang baru, serta pertemuan kembali kita dengan Tuhan (21:1-5). Pertemuan ini bukan saja soal tempat, tetapi soal kehidupan bagi umat Allah—suatu kenyataan yang mulia ketika Allah dan umat-Nya berdiam bersama dalam kekekalan.

Yohanes menggambarkan kebahagiaan yang akan dialami oleh umat Allah ketika Dia berdiam di tengah-tengah mereka. Apa yang dicampakkan selamanya adalah konsekuensi melemahkan yang harus ditanggung sebagai akibat dari dosa. Dalam penglihatan Yohanes, dukacita, kematian, rasa sakit, dan perpisahan adalah hal-hal yang akan pertama-tama dihapuskan. Hal-hal lama akan digantikan hal-hal baru yang sempurna— suatu reuni dengan berkat yang kekal. "Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka . . . . Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!’" (Why. 21:3,5).

Suatu hari nanti, kita akan bersukacita atas pertemuan kembali yang membahagiakan bersama Bapa surgawi kita. Kita tidak dapat membayangkan betapa penuh sukacitanya hari itu kelak! —MLW

Di seberang sana, kita berjumpa
Dengan kekasih yang telah menang
Kita bersatu senantiasa;
Di seberang sana, fajar cerlang. —Brock

Perpisahan adalah hukum dunia— pertemuan kembali adalah hukum surga.

--------
@Rbc

19 Juni 2009

Ketika Dicobai


Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah? —Kejadian 39:9

Bacaan Untuk Setahun: Nehemia 12–13, Kisah Para Rasul 4:23-37

Dua bersaudara—keduanya jauh dari rumah—menghadapi pencobaan yang sama. Yang pertama, bekerja jauh dari keluarga dan jatuh ke dalam perangkap seorang wanita yang lebih muda. Dosanya mengakibatkan rasa malu dan kekacauan keluarga. Yang kedua, dipisahkan dari orang-orang yang dikasihinya karena kekacauan keluarganya, mampu menolak godaan dari wanita yang lebih dewasa. Kesetiaannya membawa keselamatan dan pembaruan bagi keluarganya.

Siapakah dua bersaudara ini? Yang pertama adalah Yehuda, yang terjebak dalam rencana Tamar yang putus asa, menantu perempuan yang diabaikannya (Kej. 38). Yang kedua adalah Yusuf, yang lari dari pelukan istri Potifar (Kej. 39). Satu pasal memaparkan kisah buruk tentang perbuatan yang tidak bertanggung jawab dan penipuan; pasal lainnya merupakan kisah indah mengenai kesetiaan.

Kisah Yehuda dan Yusuf, yang ditulis berurutan dalam "riwayat keturunan Yakub" (37:2), menunjukkan pada kita bahwa pencobaan bukanlah masalahnya. Setiap orang menghadapi pencobaan, bahkan Yesus juga (Mat. 4:1-11). Namun, bagaimana kita menghadapi pencobaan? Apakah kita menunjukkan bahwa iman di dalam Allah dapat melindungi kita untuk menyerah pada dosa?

Yusuf menunjukkan kepada kita satu jalan keluar: Kenalilah perbuatan dosa sebagai suatu tindakan yang menyakiti hati Allah dan berlarilah menjauhinya. Yesus memberikan jalan keluar lainnya: Lawanlah pencobaan dengan kebenaran firman Allah.

Sedang menghadapi pencobaan? Pandanglah hal tersebut sebagai suatu kesempatan untuk membuat Allah dan firman-Nya menjadi nyata dalam hidup Anda. Kemudian jauhilah itu! —JDB

Aku sangatlah berhutang
Pada anugerah Tuhan!
Biar kemurahan Tuhan,
Hatiku selalu pegang. —Robinson

Kita terjatuh ke dalam pencobaan, ketika kita menolak untuk melawannya.

----------
@Rbc

18 Juni 2009

Semangat Keberanian


Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes, . . . heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. —Kisah Para Rasul 4:13

Bacaan Untuk Setahun: Nehemia 10–11, Kisah Para Rasul 4:1-22

Seorang pemuda sedang berkhotbah kepada orang yang lalu lalang di Hounslow, di pinggiran kota London, Inggris. Kebanyakan orang mengacuhkannya, beberapa mengolok-oloknya, dan ada juga yang berhenti untuk mendengarkan. Namun, terlepas dari reaksi yang diterimanya, ia tidak tawar hati. Dengan suara yang lantang dan jelas, ia mencurahkan isi hatinya—bukan dengan kata-kata kemarahan seorang nabi, tetapi dengan kepedulian yang mendalam bagi para pria dan wanita yang berada di jalan itu. Mata, ekspresi wajah, dan nada suaranya menunjukkan suatu sikap yang penuh dengan rasa iba, bukan kecaman. Di dalam semuanya itu, ia dengan berani membagikan kasih dan anugerah Tuhan Yesus Kristus.

Di dalam Kisah Para Rasul 4 ketika gereja mula-mula baru berdiri, Petrus dan Yohanes juga dengan berani berkhotbah kepada orang-orang pada generasi mereka. Bagaimana tanggapan dari para pemimpin pada masa itu? "Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus" (ay.13). Keberanian tersebut bukanlah buah dari suatu pelatihan pelayanan, akan tetapi berasal dari banyaknya waktu yang dihabiskan mereka bersama dengan Tuhannya. Alhasil, mereka menjadi bersemangat melayani demi tujuan yang sangat dirindukan Kristus, yakni keselamatan kekal semua orang.

Semangat keberanian yang sama terpancar dari wajah si pria muda di Hounslow. Apakah orang lain melihat keberanian yang sama di dalam diri kita? —WEC

Akankah Anda berani dalam bersaksi
Memberitakan firman Allah kepada mereka yang terhilang?
Yesus akan menghargai pelayanan Anda,
Dan mereka yang terhilang akan terketuk hatinya. —Bosch

Seorang Kristen adalah duta besar yang menjadi jurubicara bagi Raja di atas segala raja.

---------
@Rbc

17 Juni 2009

Satu Sen


[Yesus berkata,] "Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan." —Markus 12:43

Bacaan Untuk Setahun: Nehemia 7–9, Kisah Para Rasul 3

Di tahun 1987, Mike Hayes, mahasiswa baru di Universitas Illinois, menemukan cara unik untuk membiayai pendidikannya. Ia meyakinkan seorang kolumnis populer di harian Chicago Tribune untuk meminta para pembacanya "mendonasikan satu sen (kurang lebih Rp. 100,-) untuk Mike."

"Hanya satu sen," kata Hayes. "Satu sen tidak artinya bagi seseorang. Jika setiap orang . . . melihat sekeliling ruangan saat ini, tentu akan ada satu sen di bawah bantalan sofa . . . atau di lantai. Itu saja yang kuminta. Satu sen dari setiap pembaca tulisan Anda."

Kurang dari sebulan, dana yang terkumpul lebih dari 2,3 juta sen. Donasi datang dari seluruh wilayah Amerika Serikat, dan juga dari Meksiko, Kanada, serta Kepulauan Bahama. Mike akhirnya mengumpulkan dana sebesar $28,000!

Satu sen tidaklah terlalu berharga—kecuali jika itu ditambah dengan sejumlah besar uang sen lainnya. Janda yang diceritakan dalam Markus 12 memberikan persembahan tidak lebih besar dari satu sen, yang merupakan "semua yang ada padanya" (ay.44). Akan tetapi, Yesus menghargai pemberian yang kecil jumlahnya itu.

Pengorbanan janda tersebut merupakan suatu teladan dan dorongan bagi para murid—dan juga bagi kita. Ia memberikan segala yang ada padanya. Pernahkah kita sedemikian murah hati? Yesus menggunakan contoh seorang janda yang tidak diketahui namanya itu untuk mengajarkan kepada kita akan arti pemberian yang sesungguhnya.

Persembahan tersebut kurang dari satu sen, tetapi persembahan itu merupakan pemberian kasih yang tidak ternilai bagi Allah. —CHK

Suatu anugerah yang dapat ditunjukkan oleh setiap anak Allah
Adalah memberi dari hati yang rela;
Jika kita menunggu sampai kekayaan bertambah,
Kita mungkin tak akan pernah memulainya. —D. De Haan

Allah melihat hati, bukan tangan; sang pemberi, bukan pemberiannya.

----------
@Rbc

16 Juni 2009

Planetshakers - Deeper 2009


"Deeper" is the brand new praise and worship album from Planetshakers, recorded live over three services at Planetshakers City Church. This powerful mix of 11 tracks includes "The Victory", "Jesus Reigns", "I Just Want You", and title track "Deeper". In typical Planetshakers fashion this album captures the heart of passionate worship. As you listen, you'll be encouraged to stir up a hunger within you and go deeper in your relationship with God. Songwriters on this album from the Planetshakers Team include Henry Seeley, Sam Evans, Joth Hunt, Mike Pilmer and Andy Harrison.

The 20th album from Planetshakers, “Deeper” is available in CD and Worship Resource Collection. This album will stir you to hunger for a greater level of intimacy with Jesus Christ. Order your copy today.

Song # Song Title
1 The Victory
2 You Are Good
3 Nothing Is Impossible
4 Hear The Sound
5 Deeper
6 Jesus Reigns
7 My Saviour
8 All The Praise
9 The One
10 I Just Want You
11 Believe

Download:
85.4 Megabytes

---------

Uang 2000


Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. —Amsal 3:27

Bacaan Untuk Setahun: Nehemia 4–6, Kisah Para Rasul 2:22-47

Baru-baru ini, keluarga kami harus mengganti penyedia layanan Internet. Penyedia kami yang sebelumnya berjanji akan mengirimkan sebuah kotak kosong untuk membungkus dan mengirimkan kembali peralatan mereka dengan biaya kirim yang telah dibayar. Kami menanti. Tidak ada kotak yang datang. Saya menelepon. Kotak yang dijanjikan belum juga tiba, justru kami menerima tagihan untuk peralatan ini!

Ingin agar hal ini cepat selesai, saya mengirimkan kembali peralatan itu dengan biaya pribadi. Saya mengirimkan sejumlah faks untuk bertanya apakah mereka telah menerimanya—tetapi tidak ada jawaban. Lalu, saya menerima cek pengembalian sebesar Rp. 2.000,- untuk peralatan yang saya kembalikan! Pengalaman seperti itu dapat membuat frustrasi. Suatu transaksi sederhana dipersulit oleh komunikasi yang kurang baik.

Amat disayangkan, sejumlah jemaat di gereja kita mungkin mendapatkan tanggapan yang kurang baik atas kebutuhan mereka. Baik ketika mereka memerlukan konseling pernikahan, perawatan anak, bimbingan bagi remaja bermasalah, atau komunitas yang penuh kasih, mereka justru merasa tidak dipedulikan.

Gereja mula-mula tidak sempurna, tetapi jemaatnya saling menolong. Gereja di Yerusalem "membagi-bagikan [harta miliknya] kepada semua orang, sesuai dengan keperluan masing-masing" (Kis. 2:45).

Komunikasi yang baik adalah titik awal untuk belajar mengetahui kebutuhan orang lain. Hal ini memampukan kita untuk menyediakan bantuan secara pribadi dan praktis bagi mereka yang membutuhkan. Sumber daya, baik materi maupun rohani, dapat ditujukan kepada setiap orang sebagai sasaran dari kasih Allah sendiri. —HDF

Semua yang melayani di gereja seharusnya
Menunjukkan melalui perkataan dan perbuatan
Suatu kepekaan kepada mereka
Yang membutuhkan bantuan khusus. —D. De Haan

Allah peduli kepada Anda—pedulilah kepada sesama.

----------
@Rbc

12 Juni 2009

Pertukaran Yang Adil


Janji-Mu membuat aku gembira, seperti seorang yang menemukan harta. —Mazmur 119:162 (BIS)

Bacaan Untuk Setahun: Ezra 3–5, Yohanes 20

Scott dan Mary Crickmore mencurahkan 15 tahun dari hidup mereka untuk menolong penerjemahan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam dialek Maasina. Terjemahan ini ditujukan bagi suku Fulani yang diam di negara Mali di Afrika Barat.

Setelah menyelesaikan naskah awalnya, Mary mengunjungi desa-desa terdekat dan membacakan terjemahan Alkitab itu kepada penduduk desa. Ia duduk di pondok demi pondok dengan sekelompok pria atau wanita dan berdiskusi dengan mereka tentang apa yang mereka mengerti. Hal itu menolong Mary untuk memastikan bahwa kata-kata yang dipakai di dalam terjemahan tersebut sudah jelas dan tepat.

Sejumlah orang akan berpikir bahwa pengorbanan pasangan Crickmore ini terlalu besar. Mereka mengorbankan gaya hidup mereka yang nyaman, mengubah pola makan mereka dengan makan bubur dan nasi, dan tinggal di lingkungan yang jauh dari ideal sepanjang 15 tahun lamanya. Namun, pasangan Crickmore ini mengatakan bahwa pengorbanan mereka adalah "pertukaran yang adil", karena sekarang suku Fulani mempunyai firman Allah yang dapat dibaca dalam bahasa yang mereka mengerti.

Pemazmur bersuka atas firman Allah. Ia mengaguminya, bersuka atasnya, menyukainya, dan mematuhinya (Mzm. 119:161-168). Ia menemukan kedamaian dan harapan agung di dalam firman itu.

Sekarang suku Fulani dapat menemukan "harta" (ay.162 BIS) dari firman Allah. Apakah Anda setuju dengan pasangan Crickmore bahwa segala usaha dan pengorbanan untuk menyediakan Alkitab kepada sesama merupakan suatu "pertukaran yang adil"? —AMC

Alkitab memberikan harapan dan damai agung,
Melampaui segala yang ada di dunia ini;
Jadi kita harus membagikannya kepada semua orang
Yang tidak memiliki harta tersebut. —Sper

Salah satu ukuran kasih kita pada Allah ialah apa yang rela kita lakukan dalam membagikan firman-Nya pada sesama.

----------
@Rbc

11 Juni 2009

Hillsong United june 2009




Download HQ-320kbps:
Part 1:

1_Freedom Is Here
2_No Reason To Hide
3_More Than Anything
4_King of All Days
5_Desert Song
6_Oh You Bring
7_Tear Down The Walls

Part 2:

8_Soon
9_You Hold Me Now
10_Arms Open Wide
11_Your Name High
12_Yours Forever

Other link. Link yang lain pasti bisa.
Rapidshare

Rapidshare 2


----------

Penggila Hal Rohani


Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. —Kolose 4:6

Bacaan Untuk Setahun: Ezra 1–2, Yohanes 19:23-42

Saya punya seorang teman yang diundang ke sebuah pesta makan malam di mana ia duduk di sebelah tamu yang bukan seorang percaya. Tamu ini suka menantang dan senang mencela orang-orang Kristen.

Selama perjamuan itu, tanpa hentinya pria ini mengusik Matt untuk berdebat tentang kejahatan yang diperbuat kekristenan di sepanjang abad. Setiap kali mendengar celaan tamu itu, teman saya menjawab dengan tenang, "Suatu sudut pandang yang menarik." Lalu, teman saya mengajukan suatu pertanyaan yang menyatakan minat tulusnya untuk mengenal diri pria itu dan membelokkan diskusi itu dari topik yang dapat memicu perdebatan.

Saat dua orang itu beriringan keluar setelah pesta selesai, pria itu meluncurkan serangan untuk terakhir kalinya. Kali ini, Matt melingkarkan tangannya di pundak pria itu sambil tertawa kecil. "Sahabatku," katanya, "Sepanjang malam engkau berusaha mengajakku berdiskusi tentang agama. Apakah engkau penggila hal-hal rohani?"

Sikap benci tamu itu pun lenyap dan berubah menjadi ledakan tawa dan ketenangan, karena ia sadar bahwa ia memang suka hal-hal rohani. Semua manusia juga demikian. Pada dasarnya, kita merasakan suatu kedahagaan rohani—kasih Allah yang tak pernah menyerah senantiasa membayangi kita, walaupun kita berusaha membuat-Nya menjauh dari kita. Kebaikan hati dan selera humornya Matt telah membangunkan hati tamu pria itu sehingga ia dapat membuka hati untuk Injil.

Kita harus "cerdik seperti ular" (Mat. 10:16) ketika berhubungan dengan orang-orang non-Kristen dan berbicara kepada mereka dengan "penuh kasih dan tidak hambar" (Kol. 4:6). —HDR

Engkau telah memanggil kami, Tuhan, untuk bersaksi—
Dipanggil untuk memberitakan kebenaran dalam kasih;
Betapa kami membutuhkan bimbingan-Mu
Dan hikmat-Mu dari surga. —D. De Haan

Sebagai "garam dunia", orang Kristen dapat membuat orang lain haus akan Air Hidup.

----------
@RBC

10 Juni 2009

Surga Yang Selamanya Indah


Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan atau anak cucunya meminta-minta roti. —Mazmur 37:25

Bacaan Untuk Setahun: 2 Tawarikh 34–36, Yohanes 19:1-22

Mantan presiden Sekolah Alkitab Columbia di Carolina Selatan, J. Robertson McQuilkin, menyatakan bahwa Allah mempunyai tujuan bijaksana ketika mengizinkan kita untuk menjadi tua dan lemah:

"Saya pikir Allah memang menetapkan kekuatan dan keindahan dari masa muda pada segi fisik. Namun, kekuatan dan keindahan dari masa tua adalah pada segi rohani. Kita secara bertahap kehilangan kekuatan dan keindahan fisik yang bersifat sementara, agar kita berkonsentrasi penuh pada kekuatan dan keindahan yang bersifat kekal. Karena itu juga, kita begitu rindu untuk segera meninggalkan bagian kita yang sementara dan akan hancur ini, serta menjadi begitu rindu akan rumah kita yang kekal. Jika kita tetap muda, kuat, dan elok, kita mungkin tidak akan pernah mau meninggalkan dunia ini."

Ketika kita muda dan dengan senang hati disibukkan oleh segala hubungan dan kegiatan, kita mungkin tidak merindukan Rumah surgawi kita. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kita akan menemukan diri kita tanpa keluarga dan teman, dengan makin kaburnya penglihatan, makin sulit untuk mendengar, tidak dapat lagi menikmati makanan enak, atau makin susah tidur.

Berikut ini adalah nasihat yang saya berikan kepada diri sendiri: Bersyukurlah, seperti yang ditulis rasul Paulus di 1 Timotius 6:17, bahwa "Allah . . . memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati" di dalam naik turunnya perjalanan kehidupan ini. Dan bersukacitalah juga ketika kita mulai memasuki usia senja, kita dapat menyambutnya dengan pemahaman bahwa kita akan segera tinggal di surga mulia yang selamanya indah. —VCG

Ada suatu tanah yang lebih indah dari siang hari,
Dan dengan iman kita dapat melihatnya dari kejauhan;
Karena Bapa menanti kita di sepanjang jalan,
Untuk menyiapkan tempat berdiam bagi kita di sana. —Bennett

Janji akan surga adalah harapan kita yang abadi.

---------
@RBC

05 Juni 2009

Hari Demi Hari


Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. —2 Timotius 2:3

Bacaan Untuk Setahun: 2 Tawarikh 25–27, Yohanes 16

Dalam acara mini-seri televisi Band of Brothers (Ikatan Persaudaraan), regu 101st Airborne diterbangkan di atas zona pendaratan mereka selama hari-H, suatu penyerangan besar-besaran untuk membebaskan Eropa dari kendali Nazi. Ketika tokoh utama dalam mini-seri tersebut, Letnan Richard Winters, terjun dari pesawat dengan memakai parasut, tembakan-tembakan musuh dari senapan mesin dan senjata anti pesawat terbang membuncah di udara.

Beberapa waktu kemudian, Winters mengingat hari pertama ketika tiba di medan peperangan itu: "Malam itu, aku menyediakan waktu untuk berterima kasih kepada Allah atas pemeliharan-Nya di sepanjang hari yang kulalui . . . . Dan jika aku diberi kesempatan untuk bisa pulang ke rumah lagi, aku berjanji kepada Allah dan diriku sendiri bahwa aku akan mencari suatu tempat yang tenang dan menghabiskan sisa hidupku di sana dalam kedamaian." Winters mengetahui bahwa ia harus bertahan sampai saat itu tiba.

Alkitab memberitahu kita bahwa sebagai orang percaya kita terlibat di dalam peperangan yang dipicu oleh pemberontakan Setan terhadap Allah. Oleh karena itu, kita ditantang untuk "menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus" (2 Tim. 2:3). Di zaman Paulus, pasukan bala tentara Romawi menderita demi baktinya kepada Kaisar. Sebagai pengikut Yesus, kita mungkin dipanggil untuk melakukan hal yang sama demi Raja segala raja.

Di surga kelak, kita tidak lagi mengalami berbagai macam kesulitan, tetapi kita akan menikmati damai kekal bersama sang Juruselamat. Namun, untuk saat ini, kita harus tetap bertekun di dalam iman. —HDF

Tuhan, pencobaan yang kami alami tampak terlalu berat untuk kami
tanggung. Namun, kami bersyukur atas firman-Mu yang
mengingatkan kami bahwa Engkau akan menyertai dan menolong
kami untuk bertahan sampai Engkau memanggil kami pulang. Amin.

Kemenangan itu pasti untuk semua orang yang bertahan.

----------
@RBC

04 Juni 2009

Lingkaran Ketakutan


Namun jika seseorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang Pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. —1 Yohanes 2:1

Bacaan Untuk Setahun: 2 Tawarikh 21–22, Yohanes 14

Ketika grup band The Eagles menyiapkan sebuah lagu baru untuk konser, mereka duduk melingkar dengan gitar-gitar akustik tanpa pengeras suara untuk melatih pembagian vokal mereka. Mereka menamai latihan tersebut "Lingkaran Ketakutan" karena tidak ada tempat untuk menyembunyikan atau menutupi kesalahan apa pun yang mereka mungkin lakukan dalam harmonisasi suara mereka. Perasaan bahwa kesalahan mereka akan terbeber dengan jelas itulah yang membuat latihan ini sungguh mengerikan bagi mereka.

Terpisah dari Kristus, kita akan mengalami pembeberan yang jauh lebih mengerikan di hadapan Allah yang Mahaadil. Jika kita tidak mempunyai pembela dan tidak ada jalan keluar, kita juga pasti tidak memiliki harapan. Namun, di dalam Kristus, orang percaya mempunyai Pembela yang berdiri di hadapan Bapa demi kita. Ayat 1 Yohanes 2:1 tertulis "Anakku-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seseorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang adil." Ketika kegagalan kita terungkap, Dia akan membela kita. Pembela kita mengubah hubungan kita dengan Allah dari suatu hal yang menakutkan menjadi sebuah persekutuan penuh anugerah dan kebenaran.

Tantangan kita ialah bagaimana kita hidup dengan penuh kekudusan dan integritas yang menghormati Allah Bapa kita di surga. Namun demikian, jikalau kita gagal, kita tidak perlu takut bahwa kita akan diabaikan atau dicemooh oleh Bapa kita. Kita mempunyai Pengantara yang akan membela kita. —WEC

Umat-Mu lemah dan dari debu,
Tetap memegang janji-Mu teguh.
Kasih setia-Mu berlimpah terus,
Ya Khalik, Pembela dan Kawan kudus! —Grant

Pribadi yang mati sebagai Pengganti kita, kini hidup menjadi Pengantara kita.

---------
@RBC

03 Juni 2009

Meneruskan Kebaikan


Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. —Yohanes 13:15

Bacaan Untuk Setahun: 2 Tawarikh 17–18, Yohanes 13:1-20

Pay It Forward (Meneruskan Kebaikan) adalah sebuah film yang bercerita tentang rencana seorang anak berumur 12 tahun untuk memberikan pengaruh di dunia ini. Termotivasi oleh seorang gurunya di sekolah, Trevor mengundang seorang tunawisma untuk tidur di garasinya. Karena tidak mengetahui keberadaan tunawisma itu di garasi rumah, suatu malam ibu Trevor terbangun dan melihat pria tunawisma itu sedang memperbaiki truknya. Sambil menodongkan senjata, ibu Trevor memaksa pria itu untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa yang sedang dilakukannya. Pria itu mengatakan bahwa ia telah berhasil memperbaiki truk wanita itu dan menceritakan padanya tentang kebaikan Trevor. Pria itu berkata, "Aku hanya meneruskan kebaikan yang telah Trevor berikan bagiku."

Saya pikir inilah yang ada di dalam benak Yesus di salah satu percakapan terakhir-Nya dengan para murid-Nya. Dia ingin menunjukkan pada mereka seberapa luas kasih-Nya. Jadi, sebelum perjamuan mereka yang terakhir, Dia menanggalkan jubah-Nya, mengikatkan sehelai kain di pinggang-Nya, dan mulai membasuh kaki para murid-Nya. Tindakan ini sangat mengejutkan sebab hanya budak yang bertugas membasuh kaki. Ini merupakan bentuk pelayanan dan simbol yang merujuk pada pengorbanan, penderitaan, dan rasa dipermalukan yang dialami Yesus di kayu salib. Permintaan-Nya pada para murid-Nya adalah: "Jadi jikalau aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu" (Yoh. 13:14). Mereka diminta "meneruskan kebaikan" yang telah Yesus lakukan.

Bayangkan betapa berbedanya dunia ini, jika kita mengasihi sesama dengan kasih yang telah kita terima dari Allah melalui Yesus. —MLW

Teladan Kristus mengajar kita
Bahwa kita patut mengikut Dia setiap hari,
Saling memenuhi kebutuhan sesama,
Walaupun hanya melalui pelayanan yang sederhana. —Hess

Untuk mengenal kasih, bukalah hatimu bagi Yesus. Untuk menunjukkan kasih, bukalah hatimu bagi sesama.

@Santapan Rohani
----------

30 Mei 2009

Wow!


Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya Tuhan; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?" —Keluaran 15:11

Bacaan Untuk Setahun: 2 Tawarikh 10—12, Yohanes 11:30-57

Pada suatu hari yang berangin kencang di bulan Juni ketika sedang berlibur di Pegunungan Rocky, Kanada, keluarga kami mengunjungi suatu tempat wisata yang dijuluki sebagai tempat yang "wajib dikunjungi." Angin dingin membuat saya enggan melanjutkan perjalanan sampai saya bertemu sekelompok orang yang baru kembali dari tempat wisata itu. "Apakah tempat itu sungguh indah?" tanya saya. "Benar sekali!" jawab mereka. Jawaban itu menyemangati kami untuk melanjutkan perjalanan. Saat kami akhirnya tiba di tempat tujuan, keindahan pemandangan di tempat itu tidak dapat terlukiskan dengan kata-kata. "Wow!" adalah satu-satunya kata yang terucap.

Paulus mengalami hal yang sama saat ia menuliskan karya Allah dalam menyelamatkan orang Yahudi dan non-Yahudi di suratnya kepada jemaat di Roma. Ada 3 hal tentang Allah yang membuatnya terkagum.

Pertama, Allah itu penuh hikmat (11:33). Rencana keselamatan-Nya yang sempurna menunjukkan bahwa Dia punya solusi yang jauh lebih baik untuk masalah-masalah kehidupan ini dibanding rancangan kita.

Kedua, Allah itu Mahatahu. Pengetahuan-Nya tidak terbatas. Dia tidak perlu penasihat (ay.34) dan tidak ada hal yang mengejutkan-Nya.

Ketiga, Allah itu serba berkecukupan (ay.35). Tidak ada yang dapat memberi kepada Allah sesuatu yang tidak diberikan-Nya lebih dahulu kepada mereka. Tidak ada orang yang dapat membalas kebaikan-Nya.

Kita dapat berkata bersama Musa, "Siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?" (Kel. 15:11). Allah yang kita layani sungguh mengagumkan! —CPH

Oleh anugerah Allah aku berdiri dengan terkagum,
Menyaksikan segala keajaiban-Nya nan agung,
Memuji Dia yang memberiku dengan cuma-cuma
Iman sederhana untuk memahami ini! —Bosch

Dalam sifat Allah dan ciptaan-Nya, kita melihat kemuliaan-Nya.

----------

29 Mei 2009

Diperlengkapi

Baca: Efesus 6:10-18
Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis. —Efesus 6:11
Bacaan Untuk Setahun: 2 Tawarikh 7—9, Yohanes 11:1-29


Rasul Paulus, sang pejuang rohani, bersaksi ketika ia mencapai akhir dari hidupnya yang penuh perjuangan: "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman" (2 Tim. 4:7).

Bertahun-tahun sebelumnya, prajurit Yesus Kristus yang berani itu telah mendorong orang-orang Kristen untuk mengenakan perlengkapan senjata Allah yang dapat memampukan mereka untuk berdiri teguh di dalam konflik mereka melawan kekuatan kegelapan. Ia mengetahui betapa pentingnya mengenakan perlengkapan senjata tersebut setiap hari. Dalam pelayanannya untuk Kristus, Paulus telah dicambuk, dipukuli, dilempari batu, dan dipenjara, dan sering lapar, dahaga, kedinginan, dan berjerih lelah (2 Kor. 11:22-28).

Dengan memakai ikat pinggang kebenaran, berbajuzirahkan keadilan, berkasutkan damai sejahtera, memakai perisai iman, ketopong keselamatan, dan pedang Roh (firman Allah), Paulus mampu "memadamkan semua panah api dari si jahat" (Ef. 6:14-17). Dengan perlengkapan senjata Allah, kita pun terlindungi sepenuhnya dan siap untuk berperang.

Pangeran kegelapan dan segenap pasukan jahat yang membantunya adalah musuh yang sangat lihai. Itulah alasannya mengapa kita perlu mempertahankan diri dari tipu muslihatnya dan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah setiap hari. Jika kita melakukannya, sama seperti Paulus di saat menjelang akhir hidupnya, kita juga dapat yakin bahwa kita telah "menjaga iman kita". —VCG

Teriakkan pekik peperangan! Lihatlah—musuh sudah dekat!
Capailah standar tinggi bagi Tuhan;
Kenakan perlengkapan perangmu, berdirilah teguh;
Hadapi masalahmu dengan firman suci-Nya. —Sherwin

Perlengkapan senjata Allah dibuat sesuai untuk Anda, tetapi Anda harus mengenakannya.

---------

27 Mei 2009

Tidak Terlalu Buta

Baca: Mazmur 82

Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. —Matius 25:40

Bacaan Untuk Setahun: 2 Tawarikh 1—3, Yohanes 10:1-23

Penyanyi Ray Stevens umumnya dikenal sebagai penulis frasa, "Tak ada yang lebih buta daripada seorang yang tak mau melihat", sepenggal lirik dari lagu "Everything Is Beautiful" (Segala Sesuatu itu Indah). Namun, pengkhotbah Matthew Henry menggunakan frase itu 250 tahun yang lalu saat mengulas lirik dari Asaf, seorang penulis lagu lainnya.

Lirik lagu Asaf tidaklah semanis lirik lagu Stevens. Nyanyiannya adalah sebuah teguran keras kepada bangsa Israel karena gagal memenuhi maksud yang diberikan Allah bagi mereka. Allah telah memilih mereka untuk menunjukkan kepada dunia bagaimana hidup dengan benar dan menghakimi dengan adil, tapi mereka benar-benar gagal. Alih-alih memberikan keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, mereka menghakimi dengan lalim dan memihak kepada orang fasik (Mzm. 82:2-3).

Dalam tafsirannya untuk Mazmur 82, Henry menulis: "Sogokan yang diberikan secara sembunyi-sembunyi membutakan mata mereka. Mereka tidak tahu karena mereka tidak mau mengerti. Tak ada yang lebih buta daripada mereka yang tak mau melihat. Mereka telah mengacaukan hati nurani mereka sendiri, dan dengan demikian mereka berjalan dalam kegelapan."

Yesus menegaskan kepedulian Allah terhadap kaum yang lemah dan tidak berdaya. Dia menjelaskan bahwa apa pun yang dilakukan untuk "salah seorang dari yang paling hina" ini dilakukan untuk-Nya (lih. Mat. 25:34-40). Dan Dia menegur murid-murid-Nya karena menghalang-halangi anak-anak datang kepada-Nya (Luk. 18:16).

Mereka yang memiliki mata yang melihat apa yang Tuhan lihat akan mencari cara untuk menolong kaum yang tidak berdaya. —JAL

Kasihilah melalui diriku, oh kasih Allah,
Tak ada kasih di dalamku;
Oh Api kasih, nyalakan terang kasih-Mu
Yang membara dalam kekekalan. —Carmichael

Ujian bagi kasih Kristen sejati: apakah Anda menolong mereka yang tak dapat membalas pertolongan Anda?

----------

22 Mei 2009

Membuka Jalan


Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! —Yesaya 40:3

Bacaan Untuk Setahun: 1 Tawarikh 19—21, Yohanes 8:1-27

Dwight D. Eisenhower dikenal karena kepemimpinannya yang berani selama Perang Dunia II. Kemampuannya yang telah teruji dalam peperangan memperlengkapi pasukannya untuk merebut kembali Eropa. Segera setelah ia kembali ke Amerika Serikat sebagai seorang pahlawan, ia dipilih menjadi presiden.

Selama berada di Eropa, Eisenhower telah mengalami bahaya dan kesulitan dalam melalui jalan-jalan yang berliku. Jadi, demi keamanan nasional, ia menugaskan dibangunnya suatu sistem jaringan jalan raya yang menghubungkan satu negara bagian dengan negara bagian lainnya di Amerika Serikat. Terowongan-terowongan dibuat menembus gunung-gunung dan jembatanjembatan raksasa dibangun melintasi lembah demi lembah.

Di masa kuno, raja-raja penakluk memperoleh akses menuju wilayah-wilayah yang baru dikuasainya melalui jalan raya yang dibangun untuk tentara mereka. Yesaya memikirkan ini saat ia berseru, "Luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita" (Yes. 40:3). Dan Yohanes Pembaptis memanggil orang-orang untuk "mempersiapkan jalan" dalam hati mereka untuk kedatangan Yesus Sang Raja dengan cara bertobat.

Persiapan apakah yang harus dikerjakan agar Yesus mendapat akses masuk tanpa halangan ke dalam hatimu sendiri? Apakah ada kepahitan yang kasar di sana-sini yang perlu diratakan oleh buldoser pengampunan? Adakah lembah keluhan yang perlu diisi oleh rasa cukup? Jangan sampai kita melalaikan pekerjaan rohani ini. Mari persiapkan jalan bagi Sang Raja! —JMS

Dia buka jalan
Saat tiada jalan;
Dengan cara yang ajaib
Dibukanya jalanku. —Moen

Pertobatan membuka jalan bagi hubungan kita dengan Sang Raja.

---------